Selasa, 03 Maret 2009

SEKOLAH dan KEBUDAYAAN

SEKOLAH dan KEBUDAYAAN

Oleh : Mohammad Sholeh, SE

Mantan Ketua Cabang PGRI Kec. Sukorambi Periode : 2000 – 2005, Guru di SMKN 1 Sukorambi Jember dan Kepala SMK Muhammadiyah Jember Pereode 2007 - 2011


Pengembangan sekolah sebagai pusat kebudayaan bertujuan untuk meningkatkan mutu dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya. Sekolah adalah tempat pendidikan, tempat guru mengajar dan tempat murid belajar, dan terjadilah proses belajar mengajar, dan terciptalah masyarakat belajar yang bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pusat adalah tempat atau sumber bagi pengembangan kebudayaan. Kebudayaan mempunyai arti sempit dan luas. Kebudayaan dalam arti sempit dapat disamakan dengan kesenian yang bertitik berat kepada estetikan. Sedangkan kebudayaan dalam arti luas mencakup logika, etika dan estetika. Kebudayaan dalam arti luas, dipandang dari segi individual sekaligus berupa pengetahuan, praktek komunikasi dan pilihan hidup ( eksistensi ), sedangkan dipandang dari segi sosial berupa segenap perwujudan dan keseluruhan hasil logika, etika dan estetika manusia dalam rangka perkembangan hubungan manusia dengan manusia lain ( masyarakat ), dengan alam sekitarnya dan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Kebudayaan adalah perwujudan perpaduan logika, etika dan estetika dalam praktika ( karya ), yaitu sistem nilai dan ide vital ( gagasan penting ) yang dihayati sekelompok manusia/masyarakat tertentu dalam kurun waktu tertentu. Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan yang sedang berkembang kearah peradaban. Karena peradaban dinilai lebih tinggi daripada kebudayaan, maka sudah sewajarnya apabila diharapkan sekolah dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya, baik secara fisik maupun spiritual. Tujuan pendidkan adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, trampil, tinggi budi pekertinya, kuat kepribadiannya, tebal semangat kebangsaannya membangun dirinya sendiri dan bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa. Maka gambaran manusia beradab di Indonesia adalah seperti tersebut diatas. Sedangkan peradaban bangsa Indonesia yang dicita-citakan adalah suatu masyarakat yang mencerminkan seluruh aspirasi falsafah bangsa, yaitu negara bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, yang mempunyai tujuan nasional : melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia bedasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pendidikan adalah usaha sadar yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan. Sedangkan guru mempunyai peranan sentral ( terpenting ) dalam pelaksanaan pendidikan ( disamping orang tua dan masyarakat ). Tugas guru dapat diperinci sebagai tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan.
Tugas profesional, yaitu mendidik ( dalam rangka mengembangkan kepribadian ), mengajar ( dalam rangka mengembangkan kemampuan berfikir/kecerdasan ) melatih ( dalam rangka penerapan teknologi/ keterampilan ).
Tugas manusiawi, yaitu transformasi diri sendiri, auto-identifikasi dan auto-pengertian mengenai dirinya sendiri. Disini guru adalah orang tua kedua di Sekolah.
Tugas kemasyarakatan, terutama untuk membentuk manusia warga negara yang baik. Disini guru adalah pahlawan yang mencipta masa depan, dan penggerak kemajuan.

Didalam sekolah sebagai pusat kebudayaan digerakkan kegiatan-kegiatan : pengembangan logika (rajin belajar, gemar membaca dan suka meneliti), pengembangan etika (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral, dan bersikap/tingkah laku yang baik), pengembangan estetika (apresiasi seni, persepsi seni dan kreasi seni), dan pengembangan praktika (menghargai pekerjaan, terampil dan cekatan serta mampu menerapkan teknologi).
Dengan demikian diharapkan disekolah terdapat sarana dan prasarana yang mendukung, antara lain; ruang belajar, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang administrasi, ruang praktek/laboratorium, ruang kesenian, ruang UKS, lapangan olah raga, bimbingan/penyuluhan, ruang guru, kamar kecil, dan ruang lain sesuai kebutuhan.

Pengembanga sekolah sebagai pusat kebudayaan dapat berhasil secara optimal harus ditunjang oleh ketahanan sekolah. Ketahanan sekolah adalah suatu kondisi dinamik yang berisi kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang timbul dari dalam dan dari luar sekolah, yang langsung atau tidak langsung mengganggu proses belajarnya. Dalam meningkatkan ketahanan sekolah, hal-hal yang harus diperhatikan adalah disiplin, ketertiban sekolah, proses belajar mengajar, wibawa kepala sekolah dan guru terutama wali kelas, upacara bendera, 7 K dan 12 langkah kepemimpinan (tahu tugas pokoknya sendiri, tahu jumlah pembantunya, tahu nama-nama pembantunya, tahu tugas masing-masing pembantunya, memperhatikan kehadiran pembantunya, memperhatikan peralatan pembantunya, menilai pembantunya, mengambil tindakan-tindakan, memperhatikan karir pembantunya, memperhatikan kesejateraan, menciptakan suasana kekeluargaan dan memberikan laporan kepada atasannya.

Sehingga dengan demikian kesimpulan dari usaha pengembangan sekolah sebagai pusat kebudayaan adalah menciptakan masyarakat belajar (belajar keras dan bekerja keras), meningkatkan mutu pendidikan, menjadikan sekolah sebagai teladan masyarakat sekitarnya dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Kamis, 26 Februari 2009

MEMULAI BERWIRAUSAHA

MEMULAI BERWIRAUSAHA

Pengantar
• Harus memulai dari mana?
• Biasanya muncul keragu-raguan
• Ketakutan akan kegagalan
– Jangan-jangan tidak laku
– Jangan-jangan rugi

Langkah-langkah memulai berwirausaha :
• Mengenali peluang usaha
• Optimalisasi potensi diri
• Fokus dalam usaha
• Berani memulai

Mengenali peluang usaha :
Kemampuan mengenali peluang usaha
tergantung pada faktor informasi

Faktor informasi dipengaruhi oleh :
a. Pengalaman hidup
- fungsi kerja
- variasi kerja
b. Hubungan sosial
- Informasi dari hasil interaksi dengan orang lain
- Bila tidak berani memulai usaha sendiri,
disarankan memulainya bersama orang lain
atau secara berkelompok

Informasi yang diperlukan : lokasi, potensi
pasar, sumber modal, pekerja, dan cara
pengorganisasiannya
Optimalisasi potensi diri

Keunggulan kompetitif :
- Keahlian khusus (terapis)
- Pengetahuan (konsultan keuangan)
- Motivasi dan kepribadian
- Pelayanan konsumen (excellent service)
Fokus dalam usaha

• Peter Drucker (pakar kewirausahaan) menyarankan bahwa dalam memulai sebuah usaha atau inovasi sebaiknya dilakukan secara fokus yaitu dimulai dari hal kecil berdasarkan sumberdaya yang kita miliki.
Berani memulai
Karena ketidakpastian dunia usaha, maka seseorang sangat diperlukan untuk :
- Overconfidence
- Berani mengambil resiko

Beberapa sumber peluang usaha
• Perubahan teknologi
• Perubahan kebijakan dan politik
• Perubahan sosial demografi

DISIPLIN

DISIPLIN

A. Disiplin dalam kehidupan pribadi

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.

Dalam ajaran, Islam banyak ayat Al Qur’an dan Hadist, yang memerintahkan disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan, antara lain surat An Nisa ayat 59, yang artinya :
" Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada Ulil Amri dari (kalangan) kamu…………..(An Nisa 59)

disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa.
Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehdupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

>> Disiplin dalam penggunaan Waktu

Disiplin dalam penggunaan waktu perlu diperhatikan dengan seksama. Waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat kembali lagi. Hari yang sudah lewat tak akan datang lagi. Demikian pentingnya waktu sehingga berbagai bangsa di dunia mempunyai ungkapan yang menyatakan penghargaan terhadap waktu. Orang Inggris mengatakan „waktu adalah uang", peribahasa Arab mengatakan „ Waktu adalah pedang", atau „Waktu adalah peluang emas", dan kita orang Indonesia mengatakan :" sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna".

Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Disiplin tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui latihan yang ketat dalam kehidupan pribadinya.

>> Disiplin dalam beribadah

Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk atau merendahkan diri. Pengertia yang lebih luas dalam ajaran Islam, ibadah berarti tunduk dan merendah diri hanya kepada Allah yang disertai perasaan cinta kepada-Nya. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa disiplin dalam beribadah itu mengendung 2 hal :

a. Berpegang teguh apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah atau larangan, maupun ajaran yang bersifat menghalalkan, menganjurkan, sunnah dan makruh.

b. Sikap berpegang teguh yang berdasarkan cinta kepada Allah, bukan karena rasa takut atau terpaksa. Maksud cinta kepada Allah adalah senantiasa taat kepada-Nya. Perhatikan firman Allah dalam Suat Ali Imran ayat 31 :
" Katakanlah : " Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)

sebagaimana telah kita ketahui, ibadah itu dapat digolongkan menjadi dua yaitu :

a. Ibadah Mahdah (murni) yaitu bentuk ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah.
b. Ibadah Ghaira Mahdah (selain mahdah), yang tidak langsung dipersembahkan kepada Allah melainkan melalui hubungan kemanusiaan.

Dalam ibadah Mahdah (disebut juga ibadah khusus) aturan-aturannya tidak boleh semaunya akan tetapi harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mengada-ada aturan baru misalnya, shalat subuh 3 raka’at atau puasa 40 hari terus menerus tanpa berbuka, adalah orang yang tidak disiplin dalam ibadah, karena tidak mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, ia termasuk orang yang berbuat bid’ah dan tergolong sebagai orang yang sesat.

Dalam ibadah Ghaira mahdah (disebut juga ibadah umum) orang dapat menentukan aturannya yang terbaik, kecuali yang jelas dilarang oleh Allah. Tentu saja suatu perbuatan dicatat sebagai ibadah kalau niatnya ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena riya ingin mendapatkan pujian orang lain.

B. Disiplin dalam bermasyarakat

Hidup bermasyarakat adalah fitrah manusia. Dilihat dari latar belakang budaya setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Karenanya setiap manusia memiliki watak dan tingkah laku yang berbeda. Namun demikian, dengan bermasyarakat, mereka telah memiliki norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan serta peraturan yang disepakati bersama, yang harus dihormati dan di hargai serta ditaati oleh setiap anggota masyarakat tersebut.

Agama Islam mengibaratkan anggota masyarakat itu bagaikan satu bangunan yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lain mempunyai fungsi yang berbeda-beda, mana kala salah satu komponen rusak atau binasa. Hadis NAbi SAW menegaskan :
" Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan bangunan yang sebagian dari mereka memperkuat bagian lainnya. Kemudian beliau menelusupkan jari-jari yang sebelah kejari-jari tangan sebelah lainnya". ( H.R.Bukhori Muslim dan Turmudzi)

C. Disiplin Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Negara adalah alat untuk memeperjuangakan keinginan bersama berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleha para anggota atau warganegara tersebut. Tanpa adanya masyarakat yang menjadi warganya, negara tidak akan terwujud. Oleh karena itu masyarakat merupakan prasyarat untuk berdirinya suatu negara. Tujuan dibentuknya suatu negara adalah agar seluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga masyarakat dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan.
Rasulullah bersabda yang artinya :
„ Seorang muslim wajib mendengar dan taat, baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah mengerjakan maksiat, maka tidak wajib untuk mendengar dan taat". (H.R.Bukhari Muslim).

Tags: belajar
Prev: Qana'ah
Next: IMAN KEPADA HARI AKHIR { Part 1}
http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/46

MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS MUTU

MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS MUTU

Manajemen Mutu harus menjawab beberapa pertanyaan :

1). Bagaimana produk sekolah (lulusan) yang diharapkan oleh masyarakat (pelanggan) ?
2). Bagaimanakah desain proses pembelajaran harus dilakukan ?
3). Bagaimanakan menjalankan proses pembelajaran agar efisien dan efektif ?
4). Bagaimanakah lulusan agar dapat berkualitas dan berkompetisi ?

Table 2. Karakteristik Sekolah Berwawasan Manajemen Mutu

No Karakteristik Sekolah Berwawasan Mutu
1 2
1 Memiliki rumusan visi sekolah tersendiri
2 Memiliki rumusan misi sekolah tersendiri
3 Memfokuskan kepuasan semua pelanggan sekolah
4 Mencegah munculnya masalah-nasalah disekolah
5 Investasi SDM/tenaga kependidikan/guru dengan rencana yang baik
6 Memiliki strategi peningkatan mutu pendidikan
7 Keluhan/konflik di sekolah dimanfaatkan untuk belajar (learning organization)
8 Mendefinisikan karakteristik mutu pada semua bidang menyangkut kegiatan sekolah
9 Mempunyai kebijakan dan perencanaan strategic sekolah
10 Kepala sekolah memimpin adanya gerakan mutu di sekolah
11 Proses pengembangan melibatkan semua tenaga kependidikan di sekolah
12 Fasilitator mutu di sekolah memimpin proses pengembangan dan perbaikan
13 Menciptakan mutu dengan mendorong munculnya kreativitas di sekolah
14 Memberikan peranan dan tanggung jawab dengan jelas kepada tim/unit yang dibentuk
15 Mempunyai strategi yang jelas dalam melakukan evaluasi
16 Memperhatikan kebermaknan mutu untuk meningkatkan kepuasan pelanggan
17 Merencanakan peningkatan mutu dalam jangka panjang
18 Mutu dilihat sebagai bagian dari budaya dan kultur sekolah
19 Meningkatkan mutu sejalan dengan tuntuntan strategi sekolahnya sendiri
20 Memperlakukan kolega sebagai pelanggan sekolah

Table 3. Perbedaan Paradigma Baru dan Lama dalam Pendidikan

Paradigma Baru Pendidikan Paradigma Lama Pendidikan
 Hasil ujian merupakan informasi untuk melakukan bimbingan dan arahan agar siswa bergerak lebih maju, bermutu, dan proaktif
 Siswa diperlakukan sebagai pelanggan

 Keluhan siswa ditangani secara cepat dan effisien

 Diusahakan membangun proaktif para siswa dengan memberikan kesempatan-kesempatan

 Layanan sekolah diusahakan memuaskan tidak hanya siswa tetapi semua pelanggan dan sesuai kebutuhan
 Selalu direncanakan ada tindak lanjut untuk lulusan bahkan informasi pekerjaan
 Siswa diperlakukan dengan sopan, hormat & penuh pertimbangan
 Tekanan manajemen pada ketrampilan kepemimpinan mutu, perberdayaan & partisipasi aktif karyawan
 Manajemen secara aktif mempromosikan kerjasama tim dan solusi masalah oleh tim atau unit kerja
 System informasi sekolah memberikan laporan yang bermanfaat untuk membantu manajemen sekolah dan guru
 Staf administrasi bertanggungjawab dan siap memberikan pelayanan dengan cara yang mudah dan cepat (bermutu) guna memenuhi kebutuhan siswa dan pelanggan lain  Hasil ujian tidak digunakan sebagai informasi untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa

 Siswa dianggap bukan sebagai pelanggan
 Keluhan siswa ditangani dalam bentuk defensive dan kadang dengan cara negative
 Siswa tidak didorong untuk memberikan saran pendapat atau menyampaikan keluhan
 Layanan sekolah kurang diperhatikan tidak memperlakukan karyawan dan atau siswa sebagai pelanggan utama

 Tidak ada atau kurang ada tindak lanjut yang cukup tepat untuk siswa dan alumni
 Siswa dianggap lebih rendah, kurang perlakukan hormat & pertimbangan
 Tekanan manajemen pada pengawasan karyawan, system dan kerja rutin
 Banyak keputusan manajemen dibuat tanpa masukan dan informasi dari karyawan dan siswa
 Informasi tidak ada atau kurang sehingga tidak atau kurang mendukung manajemen mutu sekolah dan guru
 Staf administrasi kurang berani tanggungjawab dan kesiapan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan para pelanggan sekolah

Table 4. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pemberdayaan Guru Menuju Visi Profesionalitas

NO Usaha-Usaha Pemberdayaan SDM Menuju Visi Profesionalitas Guru
1. Melibatkan semua guru dalam kegiatan penyelesaian masalah-maslah sekolah
2. Memanfaatkan metode keilmuan dan mutu berbasis prinsip-prinsip statistik dan proses serta hasil pemantauan
3. Mendiskusikan bagaimana sebuah proyek sekolah harus ditangani dan berhasil tidak sekedar bercerita bahwa itu telah terjadi
4. Saling memberikan informasi untuk keperluan manajemen dan untuk mendorong semua tenaga kependidikan memiliki komitmen terhadap sekolah dengan kuat
5. Mendiskusikan system dan prosedur yang akan memberikan dan yang menhambat kepada kepuasan pelanggan
6. Memahami bahwa keinginan pengembangan yang berarti bagi guru tidak kompatibel dengan pendekatan dari atas kebawah
7. Perbarui usaha-usaha peningkatan professional guru dan bergerak sesuai dengan tanggungjawab serta pemantauan langsung dalam pengembangan professional guru dan tenaga kependidikan lainnya
8. Laksanakan rencana secara sistemik dan komunikasikan secara terus-menerus kepada semua yang terlibat di sekolah
9. Kembangkan ketrampilan dalam meresolusi konflik, pemecahan masalah, musyawarah, dan memberikan toleransi dan penghargaan adanya konflik yang justru positif dan membangun
10. Memberikan pendidikan dan pelatihan tentang konsep mutu, kerjasama tim, manajemen proses, layanan kepada pelanggan, komunikasi yang efektif dan kepemimpinan transformative
11. Menjadi penolong sekalipun tidak memiliki semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan tanpa merendahkan diri
12. Melakukan pendekatan, silaturrohim, kunjungan (walking around) mendengarkan suara guru dan pelanggan-pelanggan lainnya
13. Guru perlu belajar menjadi seorang pelatih (coach) dan menghindari perilaku boss
14. Memberikan otonomi kepada guru, mengambil resiko, adil dan ramah
15. Keterlibatan dalam menyeimbangkan dan meyakinkan pelanggan eksternal (siswa, orang tua dan sebagainya) tentang mutu dan pada saat yang sama menaruh perhatian pada kebutuhan pelanggan internal (guru, komite sekolah dan karyawan)
16. Guru melaksanakan proses pembelajaran secara aktif, membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk bertanya, kreatif dan proaktif
17. Memberikan kesempatan kepada guru dalam pengembangan kurikulum dan silabi sesuai dengan kondisi saat mutakhir
18. Meningkatkan kepedulian guru dalam mengajar, bukan sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik, melatih, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan siswa menuju keberhasilan bersama yaitu kepuasan pelanggan
19. Sosialisasi sekolah tentang manajemen mutu secara terpadu, yaitu mutu adalah kepuasan pelanggan sekolah yang harus selalu diusahakan dan dipenuhi
20. Mutu tidak hanya mutu lulusan (produk), tetapi juga mutu proses pembelajaran, mutu layan sekolah/guru, mutu lingkungan sekolah dan mutu SDM yaitu tenaga kependidikan terutama guru
21. Membangun dan mengembangkan system penempatan guru baru, mutasi guru dan system karier bagi guru
22. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan guru dan mengurangi beban psikologis guru
23. Mengurangi ketidaksesuaian guru dalam mengajar (minimizing teacher mismatch) dengan berbagai pendekatan
24. Program pengembangan sumber daya tenaga kependidikan, memperoleh jenjang S1 bagi pemegang diploma, dan jenjang S2 untuk jabatan kepala sekolah
25. Memanfaatkan desentralisasi pendidikan karena memberikan otonomi, kesempatan dan optimalisasi sekolah dalam memberdayakan tenaga kependidikan di sekolah, dan mengembangkan mutu sekolah serta profesionalitas guru

Didalam buku : “Membangun Profesionalisme Muhammadiyah”
Judul Tulisan : ‘Membangun Visi Profesionalitas dan Mutu Sekolah Muhammadiyah’

KEMANDIRIAN ANAK DIDIK

KEMANDIRIAN ANAK DIDIK

Kemandirian merupakan bentuk kemampuan pengendalian diri seseorang terhadap linkungannya. Dalam perkembangan dunia modern, salah satu bentuk kemandirian sering dihubungkan dengan makna entrepreneurship yang akan mengarahkan seseorang pada upaya produktivitas, inovatif, fleksibel, dinamis, kreatif dan berani mengambil resiko (Yusmilarso, 1999).

Ciri-ciri entrepreneurship (sering diartikan pula sebagai wirausahawan), adalah :
- percaya diri
- berorientasi pada tugas dan hasil
- berani mengambil resiko
- berjiwa kepemimpinan
- berorientasi kedepan
- memiliki prakarsa
- instuisi yang kuat
- memiliki kebebasan mental
- kompetensi inti

memasuki abad 21, pola pikir organisasi harus berubah dengan mengingat beberapa aspek, antara lain :
- adanya lingkungan yang penuh ketidak pastian
- penekanan pada visi, misi dan nilai kerja
- proaktif
- sikap entrepreneur
- kreativitas
- instuisi
- inovasi

Perubahan pola pikir ini diharapkan mampu memenuhi dan mengantisipasi tuntutan dan kebutuhan masyarakat (Supardi, 2000).
Kecakapan atau keahlian seseorang pekerja profesional bukan sekedar hasil pembiasaan atau latihan rutin yang terkondisi, tetapi perlu didasari oleh wawasan yang mantap, memiliki wawasan sosial yang luas, bermotivasi dan berusaha untuk berkarya (Samana, 1994).

Didalam buku : “Membangun Profesionalisme Muhammadiyah”
Judul Tulisan : ‘Peranan Pendidikan Pada Kemandirian dan Profesionalisme Anak Didik ’

Selasa, 24 Februari 2009

Kejujuran

Kejujuran

Arti jujur

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.


Kenapa harus jujur?

Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"

Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"

Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?"


Bagaimana bersikap jujur

Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: " Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"

• Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
• Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
• Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu?
Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!


Contoh yang "Lucu" (dibaca: tidak jujur)

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:

Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".

Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.

Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini pasti bohong.

• Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?
• Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari?

Dalam Siu Tao

• Apakah belajar Tao ( ) mengejar Kesempurnaan harus tidak pernah berbohong sama sekali?
• Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau "harus" bertopeng?
• Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini?
Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah "Jujur", tapi kemudian akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: "Apakah saya tidak membohongi diri sendiri?"

Lalu bagaimanakah sebenarnya? Nah, semoga para pembaca budiman bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur , lho!).


Memilih Kejujuran atau Kebenaran?

Bertindak "jujur" belum tentu benar
Bertindak "benar" belum tentu jujur

Kedua kalimat diatas memang sering terjadi dan hal ini memang mengikuti hukum-hukum tertentu yang satu dengan lainnya berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan bisnis, etika kedokteran, cara memberi pelajaran pada anak, dan lain-lain semuanya mempunyai dasar hukum tertentu dan bukan berdasarkan kejujuran tetapi berdasarkan kebenaran.

Jujur menurut saya adalah sifat yang memang harus kita miliki dan boleh dikatakan mutlak harus kita punyai. Sifat jujur boleh dikatakan setara dengan sifat-sifat lainnya seperti sifat berani, belas kasih, dan lain-lainnya.

Kalau seseorang dikatakan harus berani, lalu apakah orang tersebut harus berani dalam segala hal? Tentunya ada batas-batas tertentu dari keberanian orang tersebut, misalnya: orang tersebut berani dalam mengambil keputusan, akan tetapi saat ia diminta untuk mencoba "buggy jumping" atau mungkin diminta untuk menyanyi didepan umum maka orang tersebut akan tidak berani.

Lalu bagaimanakah ini: "Apakah keberanian itu harus bisa dilaksanakan 100%?"

Demikian pula halnya dengan "belas kasih", walaupun harus kita miliki namun saat kita menghadapi ular, harimau ataupun penjahat yang sangat mengancam diri kita, apakah kita harus melaksanakan belas kasih 100%?

Tentunya tidak dan inipun berlaku untuk kejujuran. Dalam berbisnis orang dituntut untuk jujur sehingga dipercaya orang.

Apakah benar kejujuran yang dituntut?, apakah bukan suatu tindakan yang benar yang dituntut?

Mungkin hanya salah kaprah orang meminta pihak lain untuk jujur dalam berbisnis. Dalam dunia bisnis sendiri ada hukum-hukum tertentu yang dipakai dan kalau dari prinsip "gunakan energi sesedikit mungkin untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya", hal ini akan sangat bertentangan dengan kejujuran, namun akan tetap dapat diterima bila seseorang menjalankannya dengan benar dan tidak menyakiti pihak-pihak lain.

Seorang anak jatuh dan orang tuanya spontan menyatakan "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, tidak sakit kok! Jangan nangis, yach!"

Menurut saya ini adalah salah orang tua tersebut dalam menanggapi masalah tersebut, mungkin ada alternatif lain yang bisa kita gunakan misalnya "Oh, jatuh ya, mana yang sakit, sini diberi obat agar tidak sakit", dengan tanggapan yang demikian kita mendidik anak untuk mengerti suatu permasalahan, bahwa dia jatuh dan sakit dan perlu diobati dan kita tidak berbohong.


Bagaimana dengan kebenaran?

Kebenaran tidak dapat dibantah, harus dilaksanakan dengan mutlak. Seorang pedagang mengatakan tidak untung menjual barangnya, tentunya bisa dilihat pedagang tersebut tidak jujur karena bisa saja pedagang tersebut telah mendapatkan keuntungan atau mungkin dia telah mendapat bonus dari pabrik tetapi dia tidak mengutarakannya.

Namun hal ini tetap dibenarkan dalam berbisnis, jadi bisa dilaksanakan meskipun pedagang tersebut tidak jujur. Kecuali pedagang tersebut memalsukan barang yang asli dengan yang palsu atau barang lain yang kualitasnya lebih jelek dari barang sebenarnya, hal ini adalah tidak benar, sehingga salah bila dilaksanakan, maka kita harus melakukan sesuatu yang benar.

Nah dari uraian saya diatas saya coba menjawab pertanyaan:
Dalam Siu Tao ( ) untuk mengejar kesempurnaan apakah kita bisa tidak berbohong?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyetarakan dulu istilah "berbohong" disini sama dengan "tidak jujur tetapi untuk kebaikan".

Bila hal ini kita sepakati dan memahaminya, maka tidak masalah kita berbohong, karena kita masih berpijak pada kebenaran.

Contoh-contoh konkrit yang kita bisa lihat misalnya:
• Seorang teman saya setelah membeli daging, dia menyimpan uangnya bersama daging tersebut dalam tas plastik, dan menyisakan sedikit uang disaku, diperjalanan dalam kendaraan umum dia ditodong oleh penjahat dan dimintai uang, dia mengeluarkan uangnya dari sakunya yang hanya sedikit dan memberikannya pada penjahat tersebut dan mengatakan dia tidak punya uang, bahkan dia mengatakan dia perlu ongkos untuk pulang pada penjahat tersebut, yang akhirnya dia diberi beberapa ribu untuk ongkos (Wah, teman saya telah berbohong dua kali).
• Kita menyumbang untuk amal, ketika ditanya siapa yang menyumbang, kita tidak mengaku karena kita tahu amal tidak perlu di gembar-gemborkan, inipun kita berbohong.
Kedua contoh tersebut diatas adalah tindakan yang benar, maka tidak masalah kita melakukannya.

Demikian uraian ini mudah-mudahan dapat sebagai wacana untuk diolah kembali.

Oleh: Albert Hendra Wijaya

Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif

Jujur, Cakap, dan Kreatif-Inovatif

Ada tiga kunci yang harus kita miliki untuk membangun kredibilitas. Itu ialah, jujur, cakap, dan kreatif-inovatif. Lalu, mengapa harus jujur? Logikanya, orang yang jujur tak mungkin berbohong. Apabila ia berkata A maka yang terlihat adalah A bukan B, C, D, dan seterusnya.

Orang yang jujur mustahil munafik. Karena itu ia, selain tak mudah berbohong, ia pun akan berusaha menepati janji dan tergolong amanah. Dalam hal ini, kejujuran merupakan persoalan karakter. Sehingga untuk berlaku jujur dibutuhkan pembiasaan terutama sejak kecil. Jadi, apa salahnya bila kita jujur? Untuk menopang kejujuran jelas ada hal lain yang harus dipenuhi.

Itulah yang disebut cakap. Orang yang cakap tidak berarti ia harus mampu dalam hal-hal teknis. Kalau saja ia mampu mengelola orang ia juga bisa dikatakan cakap. Dan untuk bisa cakap, maka diri harus sering dilatih, wawasan dan keterampilan dikembangkan secara kontinu dan sistematis sehingga memiliki kesiapan memadai dalam menghadapi hidup. Dengan cara ini, kelalaian dan kecerobohan sebagai biang kesalahan dan kegagalan dapat diminimalisasi.

Nilai lebih kejujuran dan kecakapan akhirnya terbangun dengan kreasi dan inovasi. Bisa jadi ada orang yang jujur dan cakap, namun sedikitpun ia tidak kreatif-inovatif. Sebaliknya ada yang kreatif maupun inovatif tetapi ia tidak jujur dan cakap. Kreatif dan inovatif bisa memunculkan prestasi. Akan tetapi prestasi itu sendiri harus ditunjang oleh karakter individunya sendiri.

Karenanya, bila ketiga hal yang tampak sepele ini tak ada pada seseorang, maka kredibilitasnya patut dipertanyakan.n mns/mqp

Keuntungan Ramah (1)

Orang yang ramah akan diterima oleh siapa saja. Jika ia orang kaya yang ramah maka orang miskin pun menghargainya. Sebaliknya jika orang miskin berlaku ramah kepada siapa pun termasuk di hadapan yang kaya, maka harga dirinya tak sedikitpun berkurang.

Konon sifat ramah merupakan satu dari sekian sifat yang bakal mengundang rezeki. Rezeki kita selaku manusia memang telah ditetapkan, dan wajib kita "jemput". Namun kalau istilah 'menjemput rezeki' bernada membutuhkan usaha maka dengan berlaku ramah justru rezeki akan datang dengan sendirinya.

Ambil contoh, seorang pedagang yang ramah terhadap calon pembelinya (meskipun kemudian pembeli tidak membeli dagangannya) sedikitpun ia takkan rugi. Sebab dengan pelayanan ramah saja ia sudah mendapat satu poin kepedulian pembeli. Minimal pembeli akan mengingatnya untuk suatu saat kembali untuk benar-benar membeli barang dagangannya.n mns/mqp ( )